December19
Tgl 16 Desember lalu saya membawa Ayyash ke puskesmas. Sebuah keputusan yang lumayan membuat saya berpikir berkali-kali pada awalnya, mengingat Ayyash selalu saya bawa ke DSA untuk imunisasi. Apalagi, saya sendiri seumur hidup belom pernah berobat di puskesmas. Saya selalu berobat di RS besar karena dulu di tempat papah saya bekerja, kami sebagai keluarganya mendapatkan fasilitas untuk berobat gratis di RS besar milik kantornya. Jadi, nggak pernah terpikirkan untuk ke puskesmas sedikitpun.
Dimulai dari baca2 informasi di milis, bahwa sebenernya imunisasi yang wajib seperti Hep B, BCG, DPT, Polio dan Campak bisa anak dapatkan tidak hanya di DSA, tapi bisa di puskesmas, posyandu, atau bidan. Mindset saya pun mulai berubah. Apalagi letak RS dimana DSAnya praktek dipikir2 ternyata lumayan jauh buat si kecil, Ayyash. Jadi saya mulai berpikir untuk mencari RS yang lebih dekat saja, untuk menghemat waktu dan tentunya biar Ayyash nggak capek di jalan.
Saya dan suami pun mulai sering berdiskusi tentang imunisasi di Puskesmas, apalagi kebetulan bulan ini jadwalnya Ayyash untuk BCG dan Polio 2. Jadi mengapa kita nggak mencoba imunisasi di Puskesmas saja? Hmm… seperti yang saya bilang di awal, bukan perkara mudah untuk membawa Ayyash ke Puskesmas. Apalagi Ayyash adalah anak pertama kami, pastinya kami ingin memberikan yang terbaik untuk Ayyash.
Langkah berikutnya adalah mencari tahu dimana Puskesmas terdekat di rumah saya. Setelah tanya sana sini, akhirnya suatu sore saya dan adik saya iseng-iseng ingin melihat pasti dimana puskesmasnya, maksudnya biar nanti pas hari H saya udah tau letak puskesmasnya. Dan begitu melewatinya…. Haaaa?? Puskesmas koq kaya’ gini sih?? *dalam hati aja* Yakin nih saya akan membawa Ayyash ke tempat seperti ini?? Maaf, bukan bermaksud menjelekkan fasilitas pemerintah, tapi koq seperti tidak diperhatikan ya… Huhuhu, saya jadi sedih sendiri, mengapa untuk urusan kesehatan seperti Puskesmas, gedungnya saja seperti nggak diurus. Ini udah lumayan di kota letaknya, nggak kebayang yang di desa2 sana… 
Waktu yang ditunggu tiba. oYA, di Puskesmas jadwal imunisasi hanya hari Selasa dan Rabu saja, jadi tidak bisa sembarangan datang seperti kalo kita ke DSA. Pagi-pagi sekitar jam setengah 9 saya sudah nongol di Puskesmas bersama Ayyash dan Mas Ade. Setelah mendaftar kami menuju ruang KIA *sepertinya sih kepanjangannya Kesehatan Ibu dan Anak*
disana kami bertemu seorang perempuan berseragam cokelat khas pemerintahan, setelah bilang bahwa Ayyash mau diimunisasi BCG, si Ibu itu menyuruh saya untuk menimbang badan Ayyash…
“Ayo Bu.. timbang anaknya” masih tetap duduk dibalik mejanya. Saya mengedarkan pandangan ke sekitar, mana timbangan bayinya pikir saya. Yang saya liat cuma timbangan untuk orang dewasa yang ditaro di lantai, itu pun untuk mengganjal pintu biar tetap terbuka. Dan disaat saya masih cengo’ nyari timbangan, si ibu itu berkata lagi (masih duduk di kursinya).
“Ayo ditimbang dulu anaknya bu.”
Saya pun celingak-celinguk kanan kiri lagi mencari-cari dimana letak timbangannya. Dan kali ini ketemu, ternyata ada di belakang saya, wajar donk kalo saya nggak liat *ngeles*
Setelah Ayyash diletakkan diatas timbangan, si ibu berkata lagi…
“Berapa bu?”
Ohhh… baca sendiri ya pikir saya. Bukan bermaksud membandingkan tapi beda banget ya kalo’ kita berobat di DSA, saat menimbang badan pasti kita akan dibantu oleh susternya.
“Hmm.. berapa nih ya..5,7 atau 5,8 ya” jawab saya ragu2 sambil terus mengamati jarum di timbangan. “Eh berapa nih ya bi?” tanya saya meminta bantuan suami saya
Namun tiba2 si ibu berkata “Bisa baca nggak sih???”
Astaghfirullah… ibunya galak banget… 
Dia pun berdiri dan langsung membaca angka di timbangan. “5,7!”
Huhuhuhuhu…. kenapa pelayanannya begini batin saya… 
Selanjutnya saya disuruh ke loket sebelah, untuk mendapatkan jarum suntik dan kembali ke ruangannya untuk diimunisasi. Memang berbeda ternyata prosedurnya kalo berobat dipuskesmas atau DSA. Kita nggak perlu bolak balik buat nebus jarum suntik aja, semua pasti sudah ada diruangan DSAnya. Tinggal masuk, duduk, trus disuntik deh.
Ayyash hanya menangis sebentar saat disuntik. Anak pinter…. 
Imunisasi BCG tidak menimbulkan demam pada anak. Nggak nyeri juga katanya, jadi boleh mandi setiap hari. Hanya saja, akan seperti luka yang menonjol di kulit dan bisa bernanah, pesan ibu bidan nggak usah diapa-apain, nanti akan sembuh sendiri.. begitu katanya.. 
Setelah itu kami diperolehkan pulang, dan tanpa diminta ke loket pembayaran…
Ternyata bener juga iklan pemerintah di tivi2 itu, imunisasi wajib gratis ! Tapi walaupun gratis, alangkah bagusnya saya pikir kalo pelayanan dari petugas kesehatannya juga bisa lebih ramah lagi, ya kaannn??!! 
sekali lagi, postingan ini bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan tempat pelayanan kesehatan pemerintah, hanya saja sepertinya banyak yang harus diperhatikan demi majunya pelayanan kesehatan bagi masyarakat umum.
Bulan depan saatnya imunisasi DPT dan Hib nih..