July7
Cerita ini berawal saat mengisi waktu saat weekend kemarin. Nggak mau kalah sama anak-anak sekolah yang mulai memadati tempat-tempat wisata untuk liburan, saya pun bersemangat untuk liburan. Sebenernya bukan saya yang mengawali ide untuk pergi ke Bandung, tapi ide suami saya, Mas Ade, bersama teman-temannya sekantor. Dan saya, cuma nebeng ikutan ke Bandung karena berstatus istrinya Mas Ade hehehe…
Setelah sempat mundur 1 minggu dari rencana, akhirnya jadi juga kami semua pergi ke Bandung 5 Juli 2008 kemaren. Rombongan terdiri dari Mas Ade dan saya, plus 4 teman kantornya yang masih single dan rata2 seumuran adek saya yang baru lulus kuliah.
Berangkat sekitar jam setengah sembilan pagi dari kawasan Prapanca, dan menuju Bandung menggunakan mobil milik bapak salah satu temen Mas Ade, Endra. Awalnya kita berencana pake dua mobil, satu lagi maksudnya minjem mobil si papah saya, tapi berhubung dipikir-pikir naek mobik bapaknya si Endra juga muat, jadi ngapain juga pake dua mobil, biar irit bensin maksudnya 
Jujur, dari awal kalo’ lihat mobilnya kelihatan tua dan agak kurang meyakinkan. Tapi, saya berusaha meyakinkan diri kalo’ semuanya akan baik-baik saja, siapa tau dari luarnya aja kliatan tua tapi mesinnya mantap
Apalagi mobilnya berplat merah, pastilah perawatannya oke.
Tapi…
Bukan bermaksud menghina itu mobil ya, namun saya mulai was-was juga saat mobil yang dibawa Endra terasa bergetar hebat apabila dibawa melaju diatas 80 km/jam. Seperti naik Bajaj roda 3 rasanya. Namun melihat penumpang yang lain tampak santai dan menikmati perjalanan, saya pun ikutan santai. Namun kekhawatiran saya benar saja terjadi… di sekitar km 65 tol Cikampek, mobil yang kami naiki tiba-tiba terasa bergetar lebih hebat, dan tiba-tiba seperti ada suara onderdil yang copot dari bagian bawah mobil. Awalnya kami kurang tau apa yang lepas dari bagian bawah mobil itu, yang kami pikirkan adalah bagaimana secepatnya untuk menepi karena kami sedang berada di lajur paling kanan dan kondisi jalan tol sedang lancar-lancarnya. Tepat di km 65 lebih 600 kami berhenti dan baru bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Saya yang kurang tau tentang mobil hanya bisa bertanya-tanya ke suami saya bagian apa yang lepas dari mobil, dan ternyata gardan mobil yang belakangan saya baru tau kalo nggak ada gardan mobil ya mana bisa jalan lagi.
Hmm, memang ini musibah yang tidak diduga-duga namun rasanya saya masih bisa bersyukur karena peristiwa gardan mobil yang copot tidak sampai menimbulkan kebakaran mobil, seperti yang terjadi pada peristiwa ini. Yang kedua, kami masih bisa menepi ke sebelah kiri dengan selamat mengingat kami berada di jalur paling kanan dan kondisi jalan tol yang sedang lancar pastilah mobil-mobil dibawa ngebut oleh si pengemudinya.
Cuaca yang panas tentunya tidak memungkin kami untuk menunggu didalam mobil. Beruntung, di dekat tempat kami terdampar ada tembok pemisah antara jalan tol dan perkampungan yang sedikit terbuka, yang sepertinya memang sengaja dibuka oleh warga sekitar. Setelah teman Mas Ade memastikan bahwa keadaan dibalik tembok itu aman, saya yang paling gendut diantara rombongan alias jadi ibu hamil sendiri segera dievakuasi (berlebihan deh bahasanya….
) ke tempat itu. Dan ternyata ada seperti balai-balai kecil, lumayan untuk duduk-duduk dan ngadem selama menunggu pertolongan. Beberapa orang menunggu derek gratis yang sudah ditelepon di pinggir jalan tol.

saat mobil diderek
Singkat cerita, akhirnya kami naik mobil itu lagi untuk diderek ke pintu tol Kalihurip 1, pintu tol terdekat dari TKP. Disana kami menunggu Ayah dan pakdenya Endra yang akan datang untuk menderek mobil itu kembali ke Jakarta serta menunggu Adek saya yang akan mengevakuasi kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami menunggu berjam-jam dibawah pohon kersem atau dikenal sebagai pohon ceri kalo orang-orang bilang, sambil duduk-duduk dan memetik ceri-ceri yang sudah berwarna merah. Hihihii.. jadi ingat masa kecil dulu… 

memetik ceri

ngadem di bawah pohon kersem
Baru sekitar jam 3 pertolongan itu datang hampir bersamaan. Namun rencana pun berubah, Endra tidak bisa ikut rombongan menuju Bandung karena harus membantu ayahnya menderek mobil kembali ke Jakarta. Sorry Ndra…
Tapi dibeliin oleh-oleh koq..
Dan, sisa rombongan akhirnya berhasil dievakuasi untuk menuju Bandung, tidak untuk ber-outbond ria di kawasan De Ranch seperti rencana awal tapinya, melainkan hanya untuk mencari makan dan oleh-oleh saja.
Hhff… bener-bener perjalanan Jakarta-Bandung terlama yang pernah saya alami. Bayangkan saja start dari Jakarta jam setengah sembilan pagi, baru sampe Bandung jam 4 sore. Ckckckckc…
Namun, masalah ternyata belum selesai. Dari sisa rombongan ternyata tidak ada yang apal jalanan Bandung dengan pasti. Hanya Endra yang biasa bolak balik Jakarta-Bandung yang kenyataannya tidak bersama kami lagi…
Saya pun langsung ngubek-ngubek isi dashboard mobil. Alhamdulillah saya menemukan peta Bandung yang saya beli bersama Izza saat akan mengunjungi acara Blogfam di Bandung hampir dua tahun lalu. Hihihii.. lama banget yaak.. untung belom kadaluwarsa tuh peta
Dan pertualangan pun kembali dimulai… Saya pun mulai akrab kembali bersama peta itu dan sedikit beramah-tamah bertanya-tanya ke beberapa orang Bandung untuk memudahkan kami menuju tempat makan dan berbagai FO serta distro di kawasan Bandung. Liburan anak sekolah, tanggal muda, tawaran diskon yang menggiurkan serta weekend yang cerah merupakan kombinasi sempurna untuk menggambarkan keadaan Bandung sabtu kemarin. Macet dimana-mana… dan banyak mobil berplat B!
Hhhff.. benar-benar weekend yang tak terduga, melelahkan dan merepotkan banyak pihak. Kami baru sampe dirumah sekitar jam setengah 2 pagi setelah terjebak macet dimana-mana. Itu pun semua rombongan terpaksa ikut menginap di rumah mamah saya di Bekasi karena tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah masing-masing karena waktu sudah menunjukkan waktu dinihari.